Cara Gila Beroganisasi Karyawan yang Menghancurkan Perusahaan

Cara Gila Beroganisasi Karyawan yang Menghancurkan Perusahaan

Cara Gila Beroganisasi Karyawan yang menghancurkan perusahaan. Leader, harus memahami ini sebagai suatu kelebihan seorang leader untuk membawa perusahaan yang dipegang amanahnya dapat memberikan jalan bagi orang lain dan berkelanjutan.


Fenomena manajemen suatu perusahaan selalu menarik disetiap jaman, pada segmentasi yang sama, pun pada lokasi kerja yang sama seperti didunia pertambangan batubara, satu perusahaan owner concession misalnya, mempekerjakan beberapa perusahaan kontraktor, yang menarik adalah kinerja finansial perusahaan kontraktor tersebut, disatu tempat kerja yang sama satu perusahaan memiliki hasil yang berbeda. Ketika salah satu perusahaan untung besar dengan harga kontrak yang sama, satu perusahaan yang lain mengalami cashflow yang minus dan diujung tanduk permasalahan kemampuan bayar terhadap liabilitas lebih tinggi daripada pemasukan, bahkan beberapa kali konsultan silih berganti datang, hasilnya nihil. Suatu pernyataan yang paling mudah dikatakan banyak pekerja didalamnya adalah : “owner perusahaan tidak mendukung” sebagian menjual bahasa indah bisnis coal, “support adalah penyumbang loss-time terbesar”.

Latar belakang mengapa suatu perusahaan berbeda dengan hasil perusahaan yang lain walau di satu lokasi kerja ? dasar tulisan ini sehingga beberapa tahun ditelusuri apakah ini kesalahan owner perusahaan sehingga perusahaan sering sekali berdekakatan kehancuran? atau hal lain?

Ternyata menghasilkan sesuatu yang lain, tidak ada satupun pemilik perusahaan yang ingin perusahaannya hancur, satu variabel penyebabnya adalah : Kemampuan berorganisasi. harga mutlak untuk perusahaan yang sukses selain sumber daya yang lain, pilar utama nya adalah kemampuan tinggi dalam berorganisasi, yang terangkum dalam attitude, sikap diri untuk memajukan perusahaan dan tidak ada satupun yang tidak penting termasuk OB sekalipun. Artinya perusahaan yang berpotensi gagal disebabkan kelemahan dalam bidang organisasi dan bagaimana cara berorganisasi karyawan yang menhancurkan perusahaan diulas secara praktis.
Attitude, Sikap Diri adalah penentu kesuksesan perusahaan
Ada yang mengatakan kesuksesan seseorang atau perusahaan dimulai dari 80% attitude dan 20% IQ tiap orang dalam organisasi perusahaan, salah satu sikap diri yang sesuai dengan ilmu ekonomi adalah Penentuan tujuan.
Tujuan itu :
1.  Spesifik, jelas apa yang ingin dicapai atau diperoleh.
2.  Realistis, bisa dicapai dan bukan sekedar angan-angan.
3.  Terukur, memiliki ukuran-ukuran tertentu untuk menentukan keberhasilannya.
4.  Terbatas waktu, mempunyai batas waktu sebagai target kapan tujuan tersebut harus bisa dicapai.
Dalam penetapan tujuan ini terdapat dua pendekatan yang dapat dilakukan yaitu apa yang disebut dengan pendekatan puncak-bawah (top-down) atau pendekatan dari atas dan pendekatan bawah-puncak (bottom-up) atau pendekatan dari bawah
Namun itu terjadi pada perusahaan yang memiliki kemampuan beroganisasi yang tinggi/optimum dan menurut penelitian Pareto tentang teori 80 : 20, baik dari sisi kekayaan perusahaan maupun dari SDM yang ternama, 80% penyebabnya adalah individu / perusahaan yang bergabung menentukan suatu prioritas. Bahasa sederhana praktis, prioritas bisa menentukan yang mana yang terpenting dari yang penting.
Diluar sudut pandang hukum (bukan karena korupsi atau kejahatan pemilik perusahaan namun jarang sekali terjadi), banyak sekali perusahaan yang sebenarnya berfundamental sangat bagus, harus menelan pil pahit, runtuh karena kelemahan pemahaman tatacara berorganisasi dan “kejahatan psikologi” yang jarang diakui namun selalu terjadi.
Bagaimana Karyawan yang menghancurkan perusahaan?
- Menonjolkan diri secara tidak sehat ; mengambil keputusan yang merugikan atas nama kekuasaan (yang sebenarnya amanah)
- Tidak dapat bekerjasama secara team (walau mengucapkan iya tetapi dihatinya tidak)
Inilah beberapa bentuk “kejahatan psikologi” karyawan yang dapat menghancurkan perusahaan, suatu bentuk yang paling banyak terjadi dan dapat menjadi perhatian pemilik perusahaan agar para pekerja yang baik dan biasanya lebih banyak dapat terpelihara dan berkesimbungan.
Letaknya cenderung terjadi ditingkat manajemen tengah (Kabag s/d manager)
“Tidak ada pekerja yang buruk, yang ada hanya pemimpin yang buruk” (dalam memberi teladan).
Apakah “cara gila” berorganisasi yang dapat menghancurkan perusahaan itu ? antara lain seperti ini :
1. Tidak mampu untuk menentukan prioritas ; dapat membedakan yang mana “genting” yang mana hanya “penting”.
2. Gagal Menepati prioritas itu, dengan berbagai alasan.
3. Lebih mengutamakan kepentingan diri sendiri, baik berlindung dengan jabatan tinggi atau pula ada hubungan / kedekatan keluarga pemilik.
4. Ketika masalah menjadi beban orang lain, sedikit yang positif mengaku adalah pengobanan nya sendiri
5. Semua hal ingin dilakukan sendiri, termasuk mengambil keputusan yang tanpa pertimbangan kuorum.
6. Pemimpin didalamnya tidak mampu dan menolak pendelegasian
7. Cenderung menyembunyikan kebenaran dan membiarkan masalah terjadi.
8. Lemah dalam kemampuan mental sebagai pendengar gagasan hebat, suka menghakimi ketimbang memberikan suatu masukan sebagai “exit solution”
9. Pemimpin (eksekutif) didalamnya sangat sulit berbagi informasi penting
10. Membuat bawahannya bekerja dengan teka-teki
11. Pandai menutupi kesalahan sendiri
12. Tidak membuka ruang bakat, keterampilan dan kecerdasan orang lain.
13. Pembicaraannya hanya sebatas hubungan individual, menyenangi kejatuhan orang lain atau bawahannya, bukan menopang dengan pengalaman dan pengetahuan.
14. Tidak mampu menjaga rahasia perusahaan, membuat onar dan memicu konflik bawahannya (kekeliruan memahami manajemen konflik).
15. Tidak mampu menerima pekerja baru, walau dengan IQ tinggi yang seharusnya dapat memberikan kontribusi optimal kepada perusahaan.
16. Dengan alasan jabatan dan pengalaman kritikan dianggap serangan terhadap pribadinya.
17. Tertawanya bukan humor, tetapi tertawa untuk menjatuhkan orang lain.
18. Hanya merasa dirinya sendiri yang paling cerdas, yang lain kosong.
19. Suka sekali mengancam bawahannya dengan nasib masa depan karyawannya, misalkan ancaman PHK.
20. Lebih suka memiliki staff yang tidak lebih darinya.
21. Hidup dalam halusinasi, yang bukan gagasannya adalah kelemahan saja.
22. Bantuan orang lain dianggap persaingan
23. Membatasi kesempatan orang lain yang sebenarnya adalah kuorum pengambil keputusan yang diharapkan perusahaan.
24. Suka memotong pembicaraan dan menganggap yang lain remeh, kontribusi kepada team sangat lemah.
25. Menjual senioritas dibalik ketidakmampuannya menghadapi anak-anak muda cerdas.
26. Suka menggalang kelompok “kerajaan didalam kerajaan” dengan maksud keamanannya sendiri bukan keberlangsungan perusahaan dan karyawan.
27. PHK dianggap bukan karena kinerja, tapi like or dislike.
28. selalu menjual nama pemilik perusahaan ketika ingin memerintah sesuatu kepada bawahannya (tidak punya legitimasi jabatan).
29. Tingkat turn-over karyawan yang dikelolanya sangat tinggi
30. Selalu muncul diskriminasi dilapangan yang memacu demo. mogok dan lain-lain.

Dengan demikian tidak sepenuhnya kejatuhan perusahaan disebabkan oleh peran pemilik perusahaan (terutama perusahaan dgn karyawan diatas 100 orang), cenderung yang terjadi dilapangan adalah ke 30 hal diatas yang menyebabkan prioritas Sales dan NPAT perusahaan terjadi pengalihan perhatian. Sehingga KPI bagi level managerial bukan hanya angka kinerja keuangan saja, kinerja keuangan dimulai dari proses berorganisasi yang optimal dan menghindari diantara ke 30 hal yang diulas diatas dan ini harus diketahui sepenuhnya oleh seluruh aspek dalam perusahaan.

Moto Teamwork : ” Its not me but we ;  we do it once dan do it right”
Salam sukses,



No comments:

Post a Comment

Follow by Email

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...